Buku ini ditulis setahun setelah Ibu pergi.Â
Waktu yang sering disebut cukup untuk membuatÂ
seseorang “ikhlasâ€, seolah kehilangan memiliki batas yangÂ
pasti. Padahal, kehilangan Ibu tidak pernah benar-benarÂ
selesai. Ia hanya berubah bentuk dari tangis yang pecah,Â
menjadi rindu yang diam-diam menetap.
 Sejak hari itu, hidup tidak memberiku jeda. DuniaÂ
tidak menunggu dukaku selesai. Tanggung jawab tetapÂ
datang, keputusan harus diambil, dan peran-peran baruÂ
menuntutku berdiri tegak, meski hatiku masih tertinggal diÂ
hari ketika Ibu pergi. Aku belajar bahwa berduka sering kaliÂ
adalah proses yang sunyi: tidak terlihat, tidak dirayakan,Â
dan sering disalahpahami.